Ritual Dayak Pakanan Apui
Pagi itu, sinar mentari menyapa dengan cerah. Rabu (15/4/26) Desa Tumbang Manggu berbeda dari pagi yang lain. Sejumlah warga desa mulai berkumpul di salah satu lokasi. Beberapa pekan di tempat yang sama telah terjadi kebakaran yang menghabiskan seluruh bangunan. Yang tersisa hanya reruntuhan kantor Kantor Cabang (KC) Balanga Tingang Betang Asi. Tidak hanya kantor, bahkan rumah tetangga ikut hangus terbakar. Tentu, hari itu bukan sekadar berkumpul, warga desa bekerja bakti menyiapkan ritual adat Pakanan Apui (memberi makan api).


Diketahui ada 14 syarat ritual adat yang harus lengkap, mulai dari hewan kurban sampai barang-barang simbolis, antara lain satu ekor babi merah dan satu ekor ayam jago merah. Tujuh macam pulut bahandang (ketan merah). Kain merah, piring-mangkuk putih, dupa garu, dan seuntai manik-manik lilis. Satu stel pakaian, selembar kain bahalai, pisau, hingga perhiasan emas sebagai singah hambaruan. Tak lupa biaya laluh, beras, serta perlengkapan menyirih seperti kapur dan tembakau.
Di bawah tenda beralaskan papan. Mulut Pisor tampak bergerak-gerak dan mengucapkan doa. Posisi Lunju saat itu duduk menghadap arah matahari terbit didepan reruntuhan bangunan. Dengan tenang, Lunju memimpin doa dan mantra dalam bahasa Sangiang—bahasa suci yang digunakan khusus untuk berkomunikasi dengan roh leluhur saat upacara adat seperti ini. Sebelum duduk Lunju melakukan ritual penyembelihan babi dan ayam jago merah.
