Ritual Dayak Pakanan Apui

Kategori : Berita CU

Pagi itu, sinar mentari menyapa dengan cerah. Rabu (15/4/26) Desa Tumbang Manggu berbeda dari pagi yang lain. Sejumlah warga desa mulai berkumpul di salah satu lokasi. Beberapa pekan di tempat yang sama telah terjadi kebakaran yang menghabiskan seluruh bangunan. Yang tersisa hanya reruntuhan kantor Kantor Cabang (KC) Balanga Tingang Betang Asi. Tidak hanya kantor, bahkan rumah tetangga ikut hangus terbakar. Tentu, hari itu bukan sekadar berkumpul, warga desa bekerja bakti menyiapkan ritual adat Pakanan Apui (memberi makan api).

Ritual ini sangat sakral bagi masyarakat Dayak. Diyakini, kebakaran bukan cuma kerugian fisik, tapi ada sisi spiritual yang perlu dipulihkan. Pakanan Apui merupakan upaya untuk memohon keselamatan kepada Tuhan dan leluhur, sekaligus "mendamaikan" unsur api supaya tidak lagi membawa sial atau musibah di kemudian hari.

Dari kejauhan tampak dua buah pondok kecil atau pasah patahu berukuran sekitar 50x50 cm yang didirikan. Uniknya, satu pondok dililit kain merah lengkap dengan tiang dengan bendera berwarna merah, sementara pondok satunya lagi beratap kajang—yang nantinya memang sengaja dibakar sebagai bagian dari prosesi. Seorang tokoh ritual Dayak yang biasa di sebut Pisor. Lunju (57) dipercaya sebagai pemimpin ritual di lokasi ritual. Lunju tidak sendiri, ia dibantu warga sekitar.

Diketahui ada 14 syarat ritual adat yang harus lengkap, mulai dari hewan kurban sampai barang-barang simbolis, antara lain satu ekor babi merah dan satu ekor ayam jago merah. Tujuh macam pulut bahandang (ketan merah). Kain merah, piring-mangkuk putih, dupa garu, dan seuntai manik-manik lilis. Satu stel pakaian, selembar kain bahalai, pisau, hingga perhiasan emas sebagai singah hambaruan. Tak lupa biaya laluh, beras, serta perlengkapan menyirih seperti kapur dan tembakau.

Di bawah tenda beralaskan papan. Mulut Pisor tampak bergerak-gerak dan mengucapkan doa. Posisi Lunju saat itu duduk menghadap arah matahari terbit didepan reruntuhan bangunan. Dengan tenang, Lunju memimpin doa dan mantra dalam bahasa Sangiang—bahasa suci yang digunakan khusus untuk berkomunikasi dengan roh leluhur saat upacara adat seperti ini. Sebelum duduk Lunju melakukan ritual penyembelihan babi dan ayam jago merah.

Semua prosesi berjalan dengan suasana yang harmonis dengan alam. Angin bertiup hangat di antara peserta dan penonton ritual. Setelah seluruh prosesi doa dan ritual selesai, suasana yang tadinya tegang dan sakral berubah menjadi lebih hangat. Acara ditutup dengan makan bersama. Di sinilah letak indahnya; ritual ini bukan cuma soal mistis, tapi jadi momen untuk mempererat solidaritas warga. Lewat Ritual ini, korban kebakaran diharapkan bisa merasa tenang secara batin dan lebih semangat untuk bangkit lagi bersama dukungan tetangga dan kerabat. Ini menjadi bagian menguatkan tradisi bagi masyarakat Dayak, khususnya penganut Kaharingan di Kalimantan Tengah.

BAGIKAN

Mulailah sekarang dengan simulasi pinjaman

Hitung Angsuran pinjaman Anda